Make your own free website on Tripod.com

MAKNA

Makna adalah pertalian antara bentuk dan referen (acuan). seseorang yang mengetahui bentuk (kata), tetapi tidak mengetahui bentuk referennya. berarti dia tidak mengetahui makna kata tersebut.

Dengan demikian, untuk mengetahui sebuah kata, kita harus mengetahui dua aspek, yaitu bentuk kata dan referennya.

ilmu yang mempelajari makna suatu kata disebut sematik. secara garis besar, sematik dibagi dua bagian, yaitu :

1. Sematik leksikal adalah sematik yang mempelajari makna dan unsur-unsur kosakata suatu bahasa.

2. Sematik gramatikal adalah sematik yang mempelajari unsur bahasa dalam hubungan antar bahasa dalam satuan gramatikal.

 

A. MACAM-MACAM MAKNA

Secara umum, makna kata dibedakan atas :

1. Makna detonasi, yang disebut juga makna lugas atau makna yang sebenarnya, adalah makna yang sesuai dengan makna yang terdapat dalam kamus. Makna ini bersifat objektif.

2. Makna konotasi, yang disebut juga makna sampingan, adalah makna yang didasarkan atas perasaan tertentu atau nilai rasa tertentu, disamping makna dasar yang umum. Makna ini bersifat subjektif.

3. Makna leksikal adalah makna kata sebagai satuan bebas. Makna ini dapat disejajarkan dengan makna denotasi.

4. Makna gramatikal adalah makna suatu satuan bahasa yang dimiliki melalui proses gramatikal

5. Makna idiomatik adalah makna yang terdapat pada kelompok kata tertentu yang tidak dapat ditelusuri asal-usul kemunculannya. Makna ini bersifat kiasan.

Contoh:

Meja hijau, yang berarti pengadilan, bukan berarti meja yang berwarna hijau.

 

B. PERUBAHAN MAKNA

Gejala perubahan makna terjadi akibat adanya perkembangan makna oleh para pemakai bahasa. Bahasa berkembang sesuai dengan perkembangan pikiran manusia.

Faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan makna, yaitu:

  1. perkembangan dalam bidang teknologi,
  2. perkembangan sosial budaya,
  3. perbedaan bidang pemakaian,
  4. adanya asosiasi atau pertukaran tanggapan indera, dan
  5. adanya penyingkatan dan pengembangan istilah.

Jenis-jenis perubahan makna meliputi beberapa hal berikut ini:

Contoh: kata bapak, makna sebelumnya adalah orang tua laki-laki,namun sekarang kata ini berlaku bagi semua orang dewasa laki-laki yang dihormati.

Contoh: kata ahli, makna sebelumnya adalah anggota atau orang yangtermasuk dalam golongan, misalnya : ahli waris. Namun, sekarang kata ini bermakna orang yang mahir dalam bidang tertentu, misalnya: ahli bedah.

Contoh: kata istri atau nyonya memiliki nilai lebih tinggi daripada bini.

Contoh; kata kunci bermakna alat pengancing pintu. Akan tetapi, dalam dunia pengajaran, kunci berarti jawaban soal-soal yang telah disediakan oleh penbuat soal.

Contoh: Wajahnya manis sekali.

Kata manis sebenarnya untuk indera perasa lidah.

 

C. PERTALIAN BENTUK KATA

Istilah bentuk kata mengacu padatulisan atau ucapan suatu kata. Dalam pemkaian bahasa sering menjumpai kata-kata, baik lisan ataupun tulisan, yang menunjukan kesamaan. Pertalian bentuk kata dibedakan manjadi:

  1. Homonim adalah dua kata atau lebih yang ejaan atau ucapannya sama, tetapi artinya berbeda.

Contoh: Santi sedang menanam bunga di halaman.

(tanah di depan rumah)

Gambar kucing itu terdapat pada halaman dua.

(muka dari lembaran buku)

  1. Homofon adalah kata-kata yang bunyinya sama, tetapl tulisan (ejaannya) berbeda.

Contoh: Masa lalu wanita itu kurang baik. (waktu/tempo)

Pencuri itu dihajar massa. (masyarakat)

  1. Homograf adalah dua kata atau lebih yang ejaan atau tulisannya sama, tetapi artinya berbeda.

Contoh: Yuni sedang makan tahu. (sejenis makanan)

Ia tidak tahu kalau ayah sedang marah. (=mengetahui)

  1. Polisemi adalah kata yang memiliki banyak makna. Istilah ini menunjukan kemungkinan adanya satu kata yang memiliki banyak arti. Makna polisemi ini berasal dari kata yng sama.

Contoh: Kakinya luka sehingga dia tidak bisa berjalan cepat. (=salah satu bagian anggota badan yang menopang tubuh dan dipakai untuk berjalan)

Anak-anak pramuka itu berkemah di kaki hutan. (=tepi hutan)

 

>back<