Make your own free website on Tripod.com

TATA KALIMAT

I. PENGENALAN INTIFRASE UNTUK MENGETAHUI INTI MAKNA

Frase: Satuan gramatikal (himpunan kata) yang merupakan kesatuan linguistik dan tidak melebihi fungsi S, P, O, dan K.

Untuk mengetahui intifrase tidaklah sulit, demikian pula untuk mengetahui inti makna, keduanya saling berkait dan saling bersesuaian. Dimana titik (inti) makna berada disitulah intifrasenya.

Jadi untuk mengetahui inti frase harus dipahami dulu makna frase tersebut :

Contoh:

1. selalu banyak alasan
2. rumah yang indah
3. tidak jadi pergi
4. orang yang tinggi besar
5. cantik sekali

II. PERBANDINGAN POLA PEMBENTUKAN FRASE

Pola frase yang sering dibahas dan ditanyakan dalam tes-tes, berdasarkan kelas atau jenisnya :
- Frase Nominal : - gedung sekolah
- surat kabar harian
- pertunjukan drama

- Frase Verbal : - sedang makan

- sudah pergi
- terlalu belajar

- Frase Adjektival : - sangat cantik
- agak malas
- terlalu berat
- Frase Adverbial : - kemarin siang
- tadi malam
- bulan depan
- Frase Preposisional : - di Jakarta
- dari Surabaya
- untuk adiknya

III. PERBANDINGAN POLA KALIMAT

1. Kalimat Tunggal

Kalimat yang hanya terdiri dari unsur inti (S, P) atau satu klausa saja.

Contoh:
· Ayah seorang guru SMP.

· Guru bahasa Inggris disekolahku akan melawat ke Amerika Serikat.
· Ibu sakit.
Ketiga contoh di atas masing-masing hanya mengandung satu klausa saja. Pada contoh kedua, pola kalimat tersebut diperluas namun tidak sampai membentuk pola kalimat baru.

2. Kalimat Majemuk Setara
Kalimat yang terdiri dari dua atau lebih unsur inti (rangkaian S, P) dan keduanya saling bergantung atau sama derajatnya.

Contoh:
· Ayah membaca buku, Ibu memasak di dapur.

· Tuti tidak senang bernyanyi, tetapi ia senang musik.
· Rudi tidak saja melihat, bahkan ia yang pertama kali menolong korban itu.

3. Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat yang terdiri dari dua atau lebih unsur inti (rangkaian S, P) dan salah satu unsurnya menjadi bagian dari unsur yang lain.

Contoh:
· (Karena) ibu sakit, ayah memasak.
· Toni datang (ketika) saya sedang mandi.
· (Walaupun) orangya melarang, ia tetap berangkat.

Keterangan :
1. Klausa yang dilekati konjungsi dinamakan anak kalimat, sedang yang tidak dilekati dinamakan induk kalimat.
2. Perbandingan pola kalimat berdasarkan jenis kata atau fungsi dapat anda ingat pola dasar kalimat bahasa Indonesia.

IV. PENENTUAN POLA KALIMAT INTI DALAM KALIMAT LAIN

Sebuah kalimat tunggal terdiri satu rangkaian unsur inti (S, P). Perluasan dari kalimat tunggal biasanya tidak melampaui batas (S, P) atau tidak membentuk pola kalimat baru.

Cara menentukan kalimat inti dari kalimat perluasan sebagai berikut :
Orang yang tinggi besar itu sama sekali bukan tetangga pamanku.
Kalimat intinya: Orang itu pamanku.

Ia berlari dengan cepat agar tidak terlambat.
Kalimat intinya: Ia berlari.

Hal tersebut didasarkan pada pengertian bahwa gatra/jabatan kalimat terbagi sebagai berikut:
- Gatra inti: Subjek dan Predikat
- Gatra tambahan: Objek (tambahan erat), Keterangan (tambahan longgar).

Dengan demikian penentuan kalimat inti segera dapat diketahui dengan mengambil Subjek dan Predikat intinya.

Adapun ciri-ciri kalimat inti adalah sebagai berikut :
· bersusun S/P
· terdiri atas dua kata (S bisa ditambah ini, itu)
· kalimat berita
· positif

Dari dua contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa kalimat inti dari kalimat perluasan adalah rangkaian dari subjek inti (yang dipokokkan) dengan predikat inti (yang menerangkan pokok).

V. PENENTUAN KEEFEKTIFAN KALIMAT

Kalimat efektif yang sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya, antara pikiran pembaca dengan pikiran penulisnya.

Dasar-dasar penguasaan kebahasaan yang mendukung keefektifan kalimat antara lain : kosa kata yang tepat, kaidah sintaksis, dan penalaran yang logis.

Bandingkan :
· Walaupun ia tidak sekolah namun semangatnya berkobar.
· Ia tidak pernah sekolah namun semangatnya berkobar.
· Walaupun ia tidak pernah sekolah semangatnya berkobar.

· Di Solo menyelenggarakan perayaan sekaten.
· Solo diselenggarakan perayaan sekaten.
· Di Solo diselenggarakan perayaan sekaten.
· Solo menyelenggarakan perayaan sekaten.

Dari contoh-contoh tersebut manakah yang termasuk kalimat efektif ?

VI. PERLUASAN KALIMAT DAN TRANSFORMASI KALIMAT

1. Perluasan Kalimat
Perluasan kalimat, diawali dari kalimat yang mengandung dua unsur pusat, kemudian ditambah satu unsur tambahan atau lebih.

Ayah mengetahui hal itu
S P O

Kalimat ini adalah perluasan dari Ayah mengetahui
S P
Karena predikatnya tergolong transitif, maka kehadiran objek menjadi wajib.
Apabila kalimat tersebut diperluas, bisa menjadi kalimat majemuk bertingkat seperti :
Ayah mengetahui bahwa aku menikah

S P O

S/P

2. Transformasi Kalimat
Kalimat Transformasi : kalimat yang telah berubah struktur gramatikalnya dari kalimat inti menjadi struktur gramatikal baru.

Transformasi kalimat bisa ditempuh dengan cara :
a. Perluasan : Kami pergi. (inti)
Kami belum akan pergi ke sana. (transformasi) ® kalimat luas.
b. Pengurangan : Kota ini indah. (inti)
Kota ini. (transformasi) ® kalimat Elips.

c. Permutasi : Siti belajar. (inti)
Belajar Siti. (transformasi) ® kalimat Inversi.
d. Pengubahan : Ibu sakit. (inti)
Ibu Sakit ? (transformasi) ® kalimat Tanya
Budi turun ! (transformasi) ® kalimat Perintah

VII. KATA PENGHUBUNG KALIMAT

· tetapi, meskipun, walaupun, namun : mempertentangkan
· atau : memilih
· bahkan, sekalipun : menguatkan
· dan : menambah, menyetarakan

· sehingga : menyimpulkan

VIII. FUNGSI KATA DALAM KALIMAT

· sejak, lalu, kemudian, seketika itu : waktu
· dimana, di sana, di dalam : tempat
· untuk, agar, supaya : fungsi
· karena, sebab : sebab-akibat

 

>back<